Siapa Sangka, Pencetus Pulitzer Prize, Hidupnya Pernah Melarat
Terlahir miskin bukan berarti tak mampu berguna bagi dunia.
Bagi kalangan wartawan pasti hapal dan tahu apa itu Pulitzer Prize. Ya, Pulitzer Prize adalah penghargaan paling bergengsi di bidang jurnalistik. Bisa dikatakan, Pulitzer adalah Nobelnya dunia jurnalistik dan sastra. Penghargaan ini diberikan untuk para wartawan dan penulis di Amerika Serikat. Para peraih Pulitzer Prize adalah wartawan atau penulis dengan laporan jurnalistik atau karya tulis terbaik.
Pulitzer Prize sendiri diambilkan dari nama pencetusnya, Joseph Pulitzer. Ya, Joseph Pulitzer, orang yang menghibahkan dana untuk lahirnya ajang penghargaan bergengsi tersebut. Penghargaan yang usia sudah mencapai 100 tahun, sejak pertama diadakan.
Ada sebuah kisah menarik dari Joseph Pulitzer. Sebelumnya namanya dikenang hingga sekarang, jejak hidup Joseph Pulitzer, banyak berisikan kisah-kisah buram. Kisah yang penuh liku. Joseph lahir pada 10 April 1847 di Mako, Hungaria, negeri di belahan Eropa Timur. Ayahnya seorang penyedia benih gandum. Joseph sebenarnya punya banyak saudara kandung. Tapi, banyak yang kemudian meninggal saat belia. Hingga tersisa dia dan adiknya.
Fisik Pulitzer memang tak menyakinkan untuk jadi tentara. Ia remaja yang kurus dan tampak seperti orang yang kurang gizi. Ditambah lagi, penglihatannya bermasalah. Tidak putus asa, setelah ditolak oleh angkatan perang Austria, Pulitzer kembali mendaftar di legiun asing tentara Perancis. Lagi-lagi Pulitzer harus menelan pil pahit. Ia kembali ditolak. Namun dia tak patah arang. Ketika ada kesempatan pendaftaran tentara untuk Kerajaan Inggris, ia juga coba mendapatkan peruntungannya. Sayang kembali dia harus menelan pil pahit. Lamarannya ditolak angkatan perang Inggris.
Setelah diterima jadi tentara Amerika, Pulitzer langsung dikirim ke Amerika. Boston jadi kota pertama yang diinjaknya. Perang saudara Amerika pun berakhir. Maka berakhir pula dinas ketentaraan Pulitzer. Sejak keluar dari dinas tentara, hidup Pulitzer sempat susah. Ia luntang lantung tanpa pekerjaan. Ada yang mengisahkan. Pulitzer sempat jadi tunawisma untuk bertahan hidup.
Demi bisa menyebrangi sungai, Pulitzer rela jadi buruh penyekop batu bara di dalam feri. Akhirnya, meski harus jadi buruh kasar, Pulitzer pun bisa menyebrangi sungai. Di St. Louis, Pulitzer bekerja apa saja demi bisa bertahan hidup. Dia pernah jadi supir, bahkan sempat jadi penggali kuburan ketika wabah kolera menggila di kota tersebut. Pulitzer juga pernah jadi pelayan restoran dan mengurus keledai.
Sampai ia kemudian bertemu dengan Carl Schurz, salah satu editor sekaligus pemilik koran Westliche Pos. Pada 1868, Pulitzer resmi menapaki karirnya di dunia jurnalistik, dunia yang kemudian melambungkan namanya. Pulitzer resmi diangkat jadi reporter.
Tapi Pulitzer tak begitu disukai para pejabat dan politisi di St. Louis. Meski sudah jadi politisi, nalurinya sebagai wartawan masih kuat. Ia berusaha mengungkap kebobrokan dan praktek kongkalikong antara pengusaha dan politisi dalam proyek-proyek publik. Ulah Pulitzer bikin gerah Edward Augustine, pengawas pendaftaran kontraktor bangunan di St. Louis. Augustine berang dan amat marah ketika tahu Pulitzer menudingnya telah melakukan korupsi. Augustine pun menyebut Pulitzer sebagai pembohong besar.
Kasus itu pun akhirnya dibawa ke pengadilan. Pulitzer mengaku bersalah. Ia pun dihukum denda membayar sekian uang. Untungnya teman-teman Pulitzer banyak yang bersimpati. Dengan patungan, teman-teman Pulitzer membantunya lepas dari jeratan hukuman. Pada 1870 kembali bertarung di pemilihan. Sayang kali ini dia harus menelan pil pahit. Ia kalah.
Ia membeli koran St.Louis Post dan menggabungkannya dengan koran Dispatch, hingga lahir koran baru bernama Post-Dispatch. Koran itu mulai merebut hati pembaca karena keberaniannya mengabarkan berita-berita kebobrokan pejabat. Berita-berita korupsi, penipuan asuransi, monopoli dan perjudian jadi garapan utama Post-Dispatch. Sirkulasinya melonjak. Koran Post-Dispatch pun untung besar. Tapi konsekuensinya Pulitzer banyak melahirkan musuh. Para bankir jahat dan pejabat korup jadi musuhnya.
Pada 29 Oktober 1911, Pulitzer meninggal dunia karena gagal jantung. Namun namanya tetap ‘hidup’ hingga sekarang. Salah satu warisan terbesarnya adalah penghargaan Pulitzer Prize. Tahun 1917, pertama kali Pulitzer Prize diberikan. Penghargaan itu bisa dikatakan sebagai bentuk rasa cintanya kepada dunia jurnalisme. Dunia yang membesarkan namanya. Dunia yang sangat dicintainya. Prev
No comments: