Ini Bukti Jika Ahok Sangat Mencintai Umat Islam di Jakarta
Sebelum menghakimi beliau, ada baiknya kamu ketahui dulu 5 jasa besar beliau bagi umat Muslim Jakarta
Salah satu paslon, yang kebetulan, beragama non-muslim, Basuki Tjahaya Purnama, mendapat ujian berat menjelang Pilkada serentak tahun 2017 ini. Pemantiknya adalah sebuah video yang berisi pidato beliau di kepulauan Seribu yang dianggap oleh sebagian kalangan muslim telah menghina salah satu ayat suci Al-Quran.
Atas insiden tersebut, banyak masyarakat yang geram. Berbagai gerakan penolakan terhadapnya kian bergolak, datang bergelombang. Paling menyita perhatian tentu saja aksi bela Islam yang telah digalakan hingga berjilid-jilid itu dan, konon, diikuti oleh 7 juta umat muslim yang ada di Jakarta. Nah, dari sini muncul pertanyaan, “Benarkah pak Ahok menghina umat Islam?”
1. Membangun masjid-masjid yang serba pertama di Ibu Kota Jakarta
Masjid yang berada di bilangan Jalan Raya Daan Mogot, Cengkareng, Jakarta Barat ini punya nama resmi Masjid Raya Daan Mogot. Masjid ini sekaligus menjadi masjid raya pertama yang dimiliki oleh provinsi istimewa Jakarta. Masjid yang tengah memasuki tahap penyelesaian akhir itu, dikabarkan akan diresmikan langsung oleh pak presiden pada tanggal 16 April tahun ini.
Selain Masjid Raya Daan Magot, satu lagi masjid yang berhasil dibangun pada eranya adalah Masjid Fatahillah. Masjid ini dibangun untuk mengakomodir kebutuhan beribadah para PNS DKI, khususnya ketika shalat jumat. Mushala yang tersedia tak cukup menampung para jemaah yang harus berdesak-desakan pada hari itu.
Miris, ketika mengetahui bahwa selama puluhan tahun Jakarta dipimpin oleh seorang muslim, baru pada era gubernur non-muslimlah didirikan masjid-masjid penting seperti ini.
Memang, secara teknis rencana pembangunan kedua masjid ini memang telah digagas sejak awal kepemimpinan beliau bersama mantan gubernur DKI yang kini menjabat sebagai Presiden RI, Jokowi. Namun, pak Ahok telah berjanji untuk sesegera mungkin merampungkan masjid tersebut. Dan beliau menepati janjinya.
2. Menutup tempat maksiat legendaris
Perbuatan paling fenomenal ini pernah mendapat porsi perhatian yang lebih di media cetak dan online selama beberapa pekan. Sebuah lokasi hiburan esek-esek yang bertempat di Kecamatan Penjaringan, Jakarta Utara tersebut, kini tinggal nama saja. Puluhan wisma dan diskotek di sepanjang jalan daerah tersebut, kini luluh lantak digerus excavator dan alat-alat berat.
Hanya berselang setahun sejak penggusuran, tempat yang dulunya menjadi ajang jual beli bisnis pelacuran ini, sekarang resmi disulap menjadi Ruang Publik Terbuka Ramah Anak dan Ruang Terbuka Hijau. Luar biasa.
3. KJP spesial untuk santri madrasah dan pesantren
Sejak tahun lalu, pemerintah DKI telah menganggarkan KJP khusus sekolah islam alias madrasah, (mulai jenjang ibtida’yah hingga Aliyah) khususnya yang swasta, dengan total anggaran mencapai Rp2,5 triliun.
Ia, lebih lanjut, ingin agar guru-guru madrasah mendapat gaji yang layak. Sehingga, jika kebutuhan ekonomi para murid terpenuhi, mereka juga akan semakin giat dan semangat mencerdaskan para santri. Mereka mendapat gaji UMR DKI senilai Rp3,1 juta per bulannya.
Ia juga berkomitmen untuk membiayai para santriwan dan santriwati yang ingin masuk pesantren di luar Jakarta. Menurutnya, langkah demikian justru bagus dalam rangka menyerap pendidikan agama dari daerah yang bersangkutan selain untuk dalam rangka menjalin hubungan yang lebih baik dengan daerah tersebut.
4. Hadiah umroh dan insentif bulanan bagi marbut
Satu terobosan yang sebelumnya tak pernah dilakukan bahkan oleh gubernur di daerah lain. Yaitu, memberangkatkan umroh bagi marbut alias penjaga masjid atau mushala. Program ini dibentuk sebagai apresiasi pemerintah DKI terhadap para penjaga masjid yang dinilai telah berkontribusi besar terhadap kemakmuran tempat ibadah umat muslim.
Lah, dananya dari mana? Dananya sendiri berasal dari dana hibah Pemprov DKI untuk kemudian dititipkan oleh Dewan Masjid Indonesia (DMI) daerah DKI. Nah, pihak DMI inilah yang bertugas menyeleksi marbut yang beruntung. Selain umrah, para marbut di era kepemimpinan pak Basuki juga “kecipratan” insentif, sebesar Rp500 ribu/bulan per kepala.
Syarat untuk mengikuti program ini adalah bisa mengumandangkan azan, menjadi imam shalat, dan hafal surat-surat pendek minimal 10 surat. DMI juga akan melihat masa bakti marbut tersebut, sehingga mereka yang berpeluang besar untuk umroh biasanya yang telah berusia lanjut. Terakhir, marbut harus memiliki rekening bank. Sehingga uang insentif yang diberikan langsung ditransfer setiap bulannya ke rekening masing-masing.
Program ini murni digagas oleh pak Basuki. Sebab, sebelum terjun menjadi cawagub DKI, beliau juga pernah menjalankan program serupa di tanah kelahirannya, Belitung. Tak ada gubernur lain yang memikirkan ide mulia seperti ini. Mungkin mereka menganggap bahwa mengumrohkan marbut tak akan menaikkan elektabilitas mereka.
5. Mempercepat jam pulang siswa/siswi dan PNS Pemprov DKI
Satu hal yang terbilang remeh, namun sangat berarti bagi warga muslim di DKI adalah ketika pak Ahok menerbitkan keputusan Gubernur yang mengatur jam kerja para PNS di lingkungan Pemprov DKI Jakarta selama bulan Ramadhan 2016. Isinya adalah menyatakan bahwa jam kerja PNS yang sebelumnya baru diperbolehkan pulang pada pukul 16.00 WIB, kini sudah dapat meninggalkan kantor dua jam lebih awal, atau pada pukul 14.00 WIB.
Meski bukan non-muslim, namun beliau sangat memahami keinginan warganya yang ingin dapat berkumpul bersama keluarganya di setiap waktu berbuka puasa. Sebab, jika para PNS harus pulang pada waktu yang biasanya, mereka rata-rata tak mampu untuk tiba di rumah tepat pada waktunya. Penyebabnya? Tak lain dan tak bukan karena macet di Jakarta yang kian hari kian menggila. Apalagi bulan Ramadhan, terutama menjelang berbuka. Beuh.
Tuh, jasa beliau terhadap umat Muslim DKI Jakarta luar biasa besar bukan? Janganlah kebencian kita terhadap seseorang membuat kita gelap mata dan menjatuhkannya habis-habisan tanpa sedikit pun mempertimbangkan bukti dan sumbangsih yang telah ia berikan untuk kebaikan rakyat banyak, khususnya provinsi istimewa Jakarta. Next
No comments: