Mulai dari OB hingga Pemulung, 5 Anak Muda Ini Kerja Keras demi Jadi Sarjana
Tak peduli keringat bercucuran atau ledekan dari sekitar, perjuangan mereka pada akhirnya berakhir manis
Mendapatkan pendidikan yang tinggi merupakan hak setiap warga negara Indonesia. Tak peduli dari mana dia berasal dan bagaimana kondisi ekonominya. Namun faktanya kebanyakan masyarakat kita yang berasal dari golongan ekonomi menengah ke bawah mendapat kesulitan untuk melanjutkan pendidikan sehingga mereka harus memikirkan cara untuk memperoleh tambahan biaya. Salah satu cara yang biasanya dipilih adalah dengan bekerja.
Apapun jenis pekerjaannya selama dapat menghasilkan uang pasti akan coba dikerjakan. Seperti halnya lima anak muda di bawah ini yang rela melakukan pekerjaan jalanan dan kasar demi memperoleh ijazah.
Rela jadi sopir angkot sampai kuli bangunan demi keluarga
Brenda Trivena Grace Salea, adalah perempuan yang memilih untuk melakukan pekerjaan laki-laki untuk mendapatkan tambahan biaya kuliah. Perempuan cantik asal Manado sudah dikenal sebagai seorang sopir angkot di daerah Likupang, Minahasa Utara. Gadis cantik ini mengaku bahwa dia tak segan melakukan pekerjaan keras demi membantu perekonomian keluarganya. Selain menjadi sopir angkot, anak kedua dari tiga bersaudara ini juga memiliki pekerjaan lainnya.
Kakak tukang ojek dan adik tukang sampah demi mendapat biaya hidup dan kuliah
Jika di Manado ada sosok Brenda, di Jakarta kita bisa mengenal Abdurrahman yang sehari-hari harus membagi waktunya antara kuliah dan ngojek. Sosok Abdurrahman mulai dikenal masyarakat saat seorang pengguna facebook menceritakan pengalamannya ketika berbincang dengan sang driver ojek online. Abdurrahman adalah seorang mahasiswa salah satu perguruan tinggi swasta di Jakarta yang setiap harinya bekerja sampai pukul 12 atau 1 dini hari.
Memikul gorengan selepas kuliah
Bila Brenda dan Abdurrahman mendapat uang dari hasil berkeliling jalanan mengangkut penumpang, beda lagi dengan Asnawi. Asnawi selama ini memilih untuk mencari uang dengan cara berjualan gorengan untuk membiayai kuliahnya di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY). Asnawi bercerita bahwa dia sudah terbiasa membantu orang tuanya berjualan gorengan sejak tahun 2006 sampai sekarang.
Menghabiskan waktu diantara sampah sejak SD
Cerita lain juga datang dari seorang pemuda asal Bekasi, Jawa Barat bernama Wahyudin. Anak dari pasangan petani ini juga menginspirasi masyarakat dengan kisahnya yang menjadi seorang pemulung demi mengumpulkan biaya kuliah. Pekerjaan tersebut ternyata sudah dia lakukan sejak duduk di bangku SD ketika melihat bagaimana tetangganya dapat bertahan hidup dari hasil memulung.
Berangkat subuh sebagai office boy sebelum masuk kelas
Dodi adalah seorang pria yang berhasil menyelesaikan pendidikan jurusan Administrasi Keuangan Fakultas Ilmu Sosial dan Politik di Universitas Padjajaran. Demi mendapatkan gelarnya Dodi memilih untuk bekerja sebagai office boy di universitas tersebut. Saat menjalani wisuda, Dodi mengaku bahwa pekerjaan sebagai OB itu sudah dilakukannya selama kurang lebih tujuh tahun.
Lima anak muda tadi sudah membuktikan pada kita semua bahwa dengan niat dan keinginan yang kuat mereka bisa meraih cita-cita tak peduli harus membanting tulang dengan cara apapun. Masalah ekonomi sebenarnya sudah bukan menjadi penghalang kita meraih pendidikan tinggi selama mau berusaha. Jadi bagaimana dengan kalian? Masih ingin bersantai menanti uang kiriman orang tua atau terpacu untuk kerja keras seperti yang dilakukan lima orang luar biasa di atas? Prev
No comments: