10 Negara yang Merekrut Tentara Anak-Anak di Bawah Umur
Bagi anak-anak, tidak ada yang lebih menyenangkan dibandingkan dengan memiliki waktu bermain atau bersosialisasi dengan teman-temannya. Sayangnya, hal itu justru tidak dinikmati oleh banyak anak di beberapa negara yang hingga sekarang masih terlilit konflik bersenjata.
Banyak anak di negara-negara tersebut dijadikan tentara atau direkrut menjadi pasukan dan dikirimkan ke berbagai titik, baik sebagai barisan pendukung pasukan utama atau bahkan ditempatkan di lini depan untuk bergabung bersama tentara-tentara dewasa lainnya. Berikut ini adalah negara-negara yang memiliki pasukan militer yang masih berusia sangat belia.
1. Myanmar/Burma
Myanmar atau juga dikenal dengan nama Burma adalah salah satu negara di Asia yang memiliki konflk internal mulai dari tahun 1948 sampai sekarang. Civil war tersebut disebabkan karena banyaknya etnis yang mendiami Myanmar dan mengklaim wilayah mereka masing-masing yang mana membuat antara kelompok satu dengan lainnya saling bermusuhan dan memicu perseteruan bersenjata.
2. South Sudan
Seperti halnya di Myanmar, di South Sudan juga mengalami perang sipil yang mana para pasukan militer dari pihak-pihak berseteru melibatkan anak-anak di bawah umur. Walaupun Pasukan Keamanan PBB telah mencoba membujuk pihak-pihak yang terkait untuk tidak merekrut anak-anak untuk dijadikan pasukan, namun pada kenyataannya sampai sekarang sudah ada lebih dari 11 ribu anak dipersenjatai untuk ikut bertempur.
3. Uganda
Di Uganda ada dua kubu yang berseteru, yaitu Lord’s Resistance Army dan Uganda’s People Defence Force. Keduanya selama bertahun-tahun terlibat konflik bersenjata yang mana membuat rakyat Uganda sendiri menderita. Alih-alih memberikan keamanan dan kenyamanan terhadap warga lainnya, perang sipil yang mempertemukan kedua kubu ini harus melibatkan anak-anak di dalamnya.
4. Kolombia
Salah satu kelompok pemberontak di Kolombia adalah Revolutianary Armed Forces of Colombia atau FARC. Kelompok pemberontak ini memiliki jumlah pasukan yang sangat banyak dan terus merongrong posisi pemerintah pusat.
5. Chad
Chad adalah suatu daerah atau wilayah di Afrika yang memproklamirkan kemerdekaannya pada tanggal 11 Agustus 1960 dan menggunakan nama Republik of Chad sebagai nama negaranya. Pada tahun 2009 lalu, ada perang sipil di Chad antara pihak pemerintah melawan beberapa kelompok pemberontak seperti FUC, UFR dan MDJT.
6. Central African Republic
Seperti halnya beberapa negara di Afrika, Central African Republic juga mengalami perpecahan di dalamnya dan mengakibatkan perang sipil antara etnis tradisional dan orang-orang yang beragama serta pemerintah. Di negara ini juga melibatkan anak-anak di bawah umur untuk ikut berperang di garis depan.
7. Democratic Republic of Congo
Democratic Republic of Congo atau Kongo adalah salah satu negara di Afrika yang sepertinya tidak pernah lepas dari perang dan perang. Setiap saat, peperangan antar suku dan golongan melawan pemerintah pusat pecah di negara ini. Para militan yang berasal dari golongan penentang pemerintah terus berusaha melipatgandakan pasukannya dengan merekrut banyak pihak terutama anak-anak.
8. Somalia
Somalia adalah salah satu negara termiskin di dunia yang di dalam negerinya sendiri pecah perang sipil antara antar-etnis, antar-umat beragama sampai dengan perlawanan terhadap pemerintah pusat. Selama perang terjadi dari dekade ke dekade, banyak pelanggaran hak asasi manusia bermunculan dari Somalia, salah satunya adalah penggunaan angkatan perang yang berasal dari anak-anak.
9. Iraq
Semenjak rezim Saddam Hussein tumbang beberapa tahun lalu, tingkat kriminalitas di Iraq semakin meningkat. Walaupun pasukan militer Amerika Serikat menyatakan bahwa mereka ikut berjasa dalam menggulingkan Saddam dan mengembalikan otoritas negara ke rakyat, namun ‘di balik layar’ justru banyak negara asing yang datang untuk mengeruk kekayaan alam, yaitu minyak, dari negara tersebut.
10. Sudan
Darfur di Sudan merupakan salah satu tempat yang sangat menyedihkan di dunia. Di daerah tersebut, sejak tahun 2003 silam, hampir 3 juta orang telah meregang nyawa karena berbagai masalah, mulai dari pemerkosaan, perang antar etnis sampai dengan pemusnahan massal.
Apa pun tujuan dan latar belakangnya, yang jelas menjadikan anak-anak sebagai bagian dari militer adalah hal yang salah. Itu akan berdampak pada jiwa dan moralnya yang jadi rusak dan tak karuan. Anak-anak harus dididik dulu mental dan jiwanya dengan benar. Baru setelah dewasa, mereka boleh memilih jalan hidupnya sendiri. Jadi tentara pun mereka bakal lebih punya moral serta kebaikan-kebaikan yang lain.
No comments: